Sabtu, 26 Januari 2013

Makalah Iman kepada Qada dan Qadar


KATA PENGANTAR


Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang memuat tentang “Qada dan Qadar”.
Salawat serta salam marilah kita limpahkan kepada Nabi besar kita yaitu Nabi Muhammad SAW, serta kepada keluarganya, kepada sahabat-sahabatnya, juga kepada para tabi’it dan tabi’atnya, dan kepada kita semuanya selaku umatnya yang patuh terhadap semua ajaran-ajarannya. Amin.
Dengan kehadiran makalah ini mudah-mudahan dapat membantu para pembaca sekalian dalam proses mempelajari hal-hal yang terkandung dalam makalah ini. Makalah ini memuat tentang pengertian Qada dan Qadar, Ikhtiar dan Tawakal, serta Iman kepada Qada dan Qadar.
Akhirnya kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah serta kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk pembuatan makalah yang akan datang.




JakartaJanuari 2013



Penyusun







PENDAHULUAN

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat serta hidayah-Nya, makalah yang memuat Qada dan Qadar telah selesai kami susun.
Makalah ini membahas tentang pengertian dari Qada dan Qadar, Takdir Mubram dan Takdir Muallaq, serta Iman kepada Qada dan Qadar. Makalah ini kami sajikan dalam bentuk pembahasan atas permasalahan yang berhubungan dengan Qada dan Qadar. Qada dan Qadar merupakan ketentuan atau ketetapan dari Allah SWT sehingga kita tidak dapat mengubah ketentuan tersebut.
Tujuan pembuatan makalah ini semata-mata hanya untuk memenuhi tugas kami pada mata pelajaran pendidikan Agama Islam, serta untuk memperluas pengetahuan kita tentang Qada dan Qadar. Dimana kita dapat memahami apa yang disebut Qada dan Qadar serta fungsinya. Dan berusaha mengimani dengan cara melaksanakan ibadah, seperti shalat lima waktu, puasa ramadhan, shalat sunah dan lain sebagainya.
          Dalam segala bentuk hasil pekerjaan manusia, pasti tak luput dari kata tidak sempurna. Maka dari itu, kami minta maaf jika ada salah kata dan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.






IMAN KEPADA QADA DAN QADAR

A.  Pengertian Qada dan Qadar
Menurut bahasa Qadha memiliki beberapa pengertian yaitu: hukum,ketetapan,pemerintah, kehendak, pemberitahuan, penciptaan. Menurut istilah Islam,yang dimaksud dengan qadha adalah ketetapan Allah sejak zaman Azali sesuai denganiradah-Nya tentang segala sesuatu yang berkenan dengan makhluk. Sedangkan arti Qadar menurut bahasa adalah: kepastian, peraturan, ukuran. Adapun menurut Islamqadar adalah perwujudan atau kenyataan ketetapan Allah terhadap semua makhluk dalam kadar dan berbentuk tertentu sesuai dengan iradah-Nya. Firman Allah:


 yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dandia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.(QS .Al-Furqan ayat 2).

Untuk memperjelas pengertian qadha dan qadar, berikut ini dikemukakancontoh. Saat ini Abdurofi melanjutkan pelajarannya di SMK. Sebelum Abdurofi lahir, bahkan sejak zaman azali Allah telah menetapkan, bahwa seorang anak bernamaAbdurofi akan melanjutkan pelajarannya di SMK. Ketetapan Allah di Zaman Azalidisebut Qadha. Kenyataan bahwa saat terjadinya disebut qadar atau takdir. Dengan katalain bahwa qadar adalah perwujudan dari qadha







B.  Hubungan Qada dan Qadar

Pada uraian tentang pengertian qadha dan qadar dijelaskan bahwa antara qadha dan qadar selalu berhubungan erat . Qadha adalah ketentuan, hukum atau rencana Allahsejak zaman azali. Qadar adalah kenyataan dari ketentuan atau hukum Allah. Jadihubungan antara qadha qadar ibarat rencana dan perbuatan.Perbuatan Allah berupa qadar-Nya selalu sesuai dengan ketentuan-Nya. Allah berfirman:


Artinya : ´
 Dan tidak sesuatupun melainkan disisi kami-lah khazanahnya; dan Kamitidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.´ (QS Al-Hijr 21)

Orang kadang-kadang menggunakan istilah qadha dan qadar dengan satu istilah,yaitu Qadar atau takdir. Jika ada orang terkena musibah, lalu orang tersebutmengatakan, ´sudah takdir´, maksudnya qadha dan qadar




Dalam Al-Quran kata Qada berarti :
No.
Arti
Qur’an Surah
1
Hukum atau Keputusan
An-Nisa ayat 65
2
Perintah
Al-Isra ayat 23
3
Kehendak
Ali Imran ayat 47
4
Mewujudkan atau Menjadikan
Fusillat ayat 12

Dalam Al-Quran kata Qadar berarti :
No.
Arti
Qur’an Surah
1
Kekuasaan atau Kemampuan
Al-Baqoroh ayat 236
2
Ketentuan atau Kepastian
Al Mursalat ayat 23
3
Ukuran
Ar Ra’d ayat 17
4
Mengatur serta menentukan suatu menurut batas-batasnya
Fussilat ayat 10


C.      Fungsi Iman Kepada Qada dan Qadar

Allah SWT mewajibkan umat manusia untuk beriman kepada Qada dan Qadar (takdir), yang tentu mengandung banyak fungsi (hikmah atau manfaat), yaitu :

1.            Memperkuat keyakinan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa pencipta alam semesta, maha kuasa, maha adil dan maha bijaksana. Keyakinan tersebut dapat mendorong umat manusia (umat islam) untuk melakukan usaha-usaha yang bijaksana, agar menjadi umat (bangsa) yang merdeka dan berdaulat. Kemudian kemerdekaan dan kedaulatan yang di perolehnya itu akan di manfaatkannya secara adil, demi terwujudnya kemakmuran kesejahteraan bersama di dunia dan di akherat.
2.            Menumbuhkan kesadaran bahwa alam semesta dan segala isinya berjalan sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah SWT (sunnatullah) atau hukum alam. Kesadaran yang demikian dapat mendorong umat manusia (umat islam) untuk menjadi ilmuan-ilmuan yang canggih di bidangnya masing-masing, kemudian mengadakan usaha-usaha penelitian terhadap setiap mahluk Allah seperti manusia, hewan, tumbuhan, air, udara, barang tambang, dan gas. Sedangkan hasil-hasil penelitiannya di manfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia kearah yang lebih tinggi. (Q.S Al-mujadalah, 58 : 11)
3.            Meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Iman kepada takdir dapat menumbuhkan kesadaran bahwa segala yang ada dan terjadi di alam semesta ini seperti daratan, lautan, angkasa raya, tanah yang subur, tanah yang tandus, dan berbagai bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, serta banjir semata-mata karena kehendak, kekuasaan dan keadilan Allah SWT. Selain itu, ke maha kuasaan dan keadilan Allah SWT akan di tampakkan kepada umat manusia, tatkala umat manusia sudah meninggal dunia dan hidup di alam kubur dan alam akhirat. Manusia yang ketika di dunianya bertakwa, tentu akan memperoleh nikmat kubur dan akan di masukan kesurga, sedangkan manusia yang ketika di dunianya durhaka kepada Allah dan banyak berbuat dosa, tentu akan memperoleh siksa kubur dan di campakan kedalam neraka jahanam. (Q.S Ali Imran, 3 : 131-133).
4.            Menumbuhkan sikap perilaku dan terpuji, serta menghilangkan sikap serta perilaku tercela. Orang yang betul-betul beriman kepada takdir (umat islam yang bertakwa) tentu akan memiliki sikap dan prilaku terpuji seperti sabar, tawakal, qanaah, dan optimis dalm hidup. Juga akan mampu memelihara diri dari sikap dan prilaku tercela, seperti: sombong, iri hati, dengki, buruk sangka, dan pesimis dalam hidup. Mengapa demikian? Coba kamu renungkan jawabannya! (Q.S. Al-Hadid, 57 : 21-24)
5.            Mendorong umat manusia (umat islam) untuk berusaha agar kualitas hidupnya meningkat, sehingga hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Umat manusia (umat islam) jika betul-betul beriman kepada takdir, tentu dalam hidupnya di dunia yang sebenar ini tidak akan berpangku tangan. Mereka akan berusaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh di bidangnya masing-masing, sesuai dengan kemampuannya yang telah di usahakan secara maksimal, sehingga menjadi manusia yang paling bermanfaat. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
Sebaik-baiknya manusia ialah yang lebih bermanfaat kepada manusia”.
(H.R. At-Tabrani).

D.  Permasalahan
Dilihat dari pengertian Qada dan Qadar yang telah diterangkan diatas, dapat disimpulkan adanya masalah, yaitu : Adakah penjelasan lain tentang Qada dan Qadar menurut para ulama?

E.  Pembahasan
Menurut ilmu pengetahuan yang terus berkembang, kita dapat dengan mudah menemukan jawaban dari adanya masalah. Dan dalam permasalahan ini, kami mengaitkan jawaban dari permasalahan menurut data yang telah kami cari dari berbagai penjelasan tentang Qada dan Qadar dalam internet. Dan kami menemukan jawabannya.
Ternyata banyak sekali penjelasan mengenai Qada dan Qadar yang dikemukakan oleh para ulama. Diantaranya, kami menemukan pendapat dari Ulama Asy’ariah.

Ulama Asy’ariah, yang di pelopori oleh Abu Hasan Al Asy’Ari yang telah wafat di Basrah, tahun 330 H. Berpendapat bahwa :
Qada adalah kehendak Allah SWT mengenai segala hal dan keadaan, kebaikan dan keburukan, yang sesuai dengan apa yang akan di ciptakan dan tidak akan berubah-ubah sampai terwujudnya kehendak tersebut.
Qadar adalah perwujudan kehendak Allah SWT terhadap semua mahkluknya dalam bentu-bentuk dan batasan-batasan tertentu, baik mengenai zat-zatnya ataupun sipat-sipatnya.
Menurut ulama Asy’ariah ini, jelaslah bahwa hubungan Qada dengan Qadar merupakan satu kesatuan, karena Qada merupakan kehendak Allah SWT, sedangkan Qadar merupakan perwujudan dari kehendak itu. Qada bersifat Qadim (lebih dulu ada), sedangkan Qadar bersifat Hadis (baru). Selain itu, ada pula ulama yang berpendapat bahwa hubungan antara Qada dan Qadar merupakan dwi tunggal, karena dapat di katakan bahwa pengertian Qada sama dengan pengertian dari Qadar.

Rasulullah SAW ketika di tanya oleh malaikat Jibril tentang dasar-dasar iman, beliau hanya menyebutkan (Iman kepada “Qadar”, tanpa menyebutkan iman kepada “Qada dan Qadar. Rasulullah SAW bersabda :

االإ يمان أ ن تو من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتومن با لقد ر خيره وسره (رواه مسلم)

Artinya : “Iman itu ialah engkau percaya kepada Allah, para malaikatnya, kitab-kitabnya, para Rasulnya, hari akhirat, dan engkau percaya kepada qadar yang baiknya ataupun yang buruk”. (H.R. Muslim)

Iman kepada Qada dan Qadar dalam ungkapan sehari-hari lebih popular dengan sebutan Iman kepada Takdir. Iman kepada takdir berarti percaya bahwa segala apapun yang terjadi di alam semesta ini, seperti adanya siang dan malam, adanya tanah yang subur dan yang tandus, hidup dan mati, rezeki dan jodoh seseorang merupakan kehendak dan ketentuan Allah SWT.
Takdir itu sendiri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1.      Takdir Mubram adalah ketentuan Allah SWT, yang sudah pasti berlaku atas manusia tanpa dapat dielakan lagi meskipun dengan ikhtiar (usaha). Seperti usia, kelahiran, dan kematian.
2.      Takdir Muallaq adalah ketentuan Allah SWT, yang mungkin dapat diubah oleh manusia dengan ikhtiarnya apabila Allah SWT mengizinkan. Allah hanya menunda keputusan dan menggantikannya seusai dengan usaha manusia itu sendiri.

Hukum beriman kepada takdir adalah Fardu’ain. Seseorang yang mengaku islam, tetapi tidak beriman pada takdir dapat di anggap murtad.

Ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang iman kepada takdir cukup banyak, antara lain :
... إذا قضي أمرا فإ نما يقول له كن فيكون.

Artinya : “Apabila Allah hendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya : “jadilah”, lalu jadilah dia”. (Q.S. Ali Imran, 3 : 47)
... وقدرفيها أقواتها ...

Artinya : “dan dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya”. (Q.S. Fussilat, 41 : 10)
... وكان أمر الله قدرا مقدورا.
Artinya : 
“Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku” (Q.S. Al Ahzab, 33 : 38)

Apakah manusia itu musayyar (di paksakan oleh kekuatan Allah) atau mukhayyar (di beri kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri)? Tidak benar kalau di iasana manusia itu mutlak musayyar, tetapi juga keliru jika di katakan manusia itu mutlak mukhayyar.
Hal –hal yang musayyar misalnya, setiap manusia yang hidup di bumi tubuhnya tidak bisa terbebas dari gaya tarik bumi, beberapa organ tubuh manusia seperti paru-paru, jantung, alat pernapasan, dan peredaran darah bekerja secara otomatis diluar kesadaran atau perasaan, bahkan ketika manusia tidur sekalipun.
Adapun hal yang mukhayyar misalnya, manusia mempunyai kebebasan untuk memilih dan berbuat sesuai dengan kodratnya sebagai mahluk. Allah SWT melalui Rasulnya telah memberikan petunjuk tentang jalan yang lurus, yang harus di tempuh manusia, kalau ia ingin masuk surga, dan jalan yang sesat yang harus di jauhi manusia jika ia tidak ingin masuk neraka. Allah SWT berfirman :
وهد ينه النجد ين

Artinya : “Dan kami telah menunjukan kepada dua jalan (jalan kebajikan dan jalan kejahatan)”. (Q.S. Al-Balad, 90 : 10)

Bahwa manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan pilihan dalam berbuat. Hal itu tersirat dalam peristiwa berikut yang terjadi pada masa Rasulullah SAW dan Khalifah Umar bin Khatab RA.
F.  Kesimpulan

Dilihat dari jalannya pembahasan, kita dapat mengambil kesimpulan, yaitu :
Allah SWT dalam menciptakan makhluk-Nya selalu dengan ukuran, bentuk, sifat, dan hukum tertentu. Dan itulah yang disebut Sunnatullah. Sunnatullah mencakup tentang Qada dan Qadar yang memiliki hubungan yang saling melengkapi. Karena, Qada lebih menggambarkan aspek perencanaan dan penentuan atas penciptaan terhadap segala sesuatu. Sedangkan Qadar ialah batasan atau ukuran serta hukum-hukum yang harus ada pada setiap ciptaan yang telah direncanakan itu. Akan tetapi manusia tidak boleh menggantungkan diri sepenuhnya kepada takdir semata-mata, melainkan harus berusaha untuk menentukan nasibnya sendiri.







































DAFTAR PUSTAKA



0 komentar:

Poskan Komentar

Ged a Widget